Pernah dengar Uka-uka..,Dunia Lain dan sejenisnya.....Nah jalan-jalan kita kali ini memang ada hubungannya dengan dunia misteri... Tujuan trip kali ini adalah sebuah Gedung di Semarang, Jawa Tengah yang merupakan kantor dari Belanda. Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu). Ini dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang banyak sekali (dalam kenyataannya pintu yang ada tidak sampai seribu, mungkin juga karena jendela bangunan ini tinggi dan lebar, masyarakat juga menganggapnya sebagai pintu).
Saat ini bangunan yang berusia 100 tahun tersebut kosong dan bereputasi buruk sebagai bangunan angker dan seram. Sesekali digunakan sebagai tempat pameran, diantaranya Semarang Expo dan Tourism Expo.Pernah ada juga wacana yang ingin mengubahnya menjadi hotel. Pada tahun 2007, bangunan ini juga dipakai untuk film dengan judul "Lawang Sewu Dendam Kuntilanak" dengan bangunannya.
Tempat ini sempat ditutup untuk umum namun kembali dibuka setelah dipakai syuting oleh Dunia Lain yang pada waktu itu sedang ngetrend. Hingga sekarang Gedung Angker ini dijadikan sebagai objek wisata, tepatnya uji nyali. Terlebih karena dalam kawasan ini pula terdapat penjara bawah tanah yang menjadi lokasi syuting Dunia Lain. Konon katanya sih, tempat ini dahulu digunakan sebagai penjara buat tawanan Jepang setelah mengambil alih kekuasaan dari Belanda. Pertama kali menjajakkan kaki ke lobby gedung, udara dingin segera menyapa kulit. Saya sempat bergidik, karena gedung sepi dan tua begini pasti banyak hantunya. Tapi saya mencoba mengingat pesan para ustadz, bahwa jin, hantu dst itu adalah makhluk yang lebih rendah dari manusia, sehingga kita tak perlu takut pada mereka. Yang penting, kita tetap "menghargai" keberadaan mereka, jangan diganggu dan jangan berbuat yang tidak-tidak. Maka saya pun mencoba memberanikan diri sambil sesekali berzikir di dalam hati. Apalagi karena teman-teman lain pada berani, saya makin percaya diri.
Tapi sikap yang bertolak belakang diperlihatkan oleh seorang kakek tua yang sangat ramah. Dengan senang hati ia mempersilahkan kami menjelajahi gedung tersebut. "Ayo, kita lihat-lihat ke dalam. Tak usah takut. Kalau dulu ada Uji Nyali di sini, itu urusan Trans TV," ujarnya. Intinya, dia ingin menunjukkan pada kami bahwa Lawang Sewu bukanlah gedung yang perlu ditakuti, dan kami semua boleh masuk ke sana. Belakangan saya tahu, bahwa si kakek ini adalah seorang purnawirawan TNI yang menjadi penjaga Lawang Sewu.
Dengan gaya seorang tour guide, kakek yang baik hati ini menemani kami berkeliling gedung. Ia menjelaskan setiap detil ruangan dengan gaya yang sangat profesional, seolah-olah dia menguasai segala sesuatu mengenai Lawang Sewu ini. Saya terkesima ketika kaki melangkah ke ruang demi ruang. Kotor dan berdebu. Tak terawat. Bau. Tapi amat berkesan. Kami begitu penasaran untuk menjelajahi ruangan demi ruangan.
Di sebuah sisi gedung, kami melihat ada kaca jendela yang telah kusam dan penuh oleh coretan-coretan dari pengunjung. Di dinding pun banyak bertempelan stiker bertuliskan "JAGALAH KEBERSIHAN" dan seterusnya. Hal-hal seperti ini adalah bagian dari masa kini, yang menunjukkan bahwa Lawang Sewu ini sudah sering dikunjungi orang.
Yang menakjubkan, ada sebuah ruangan yang katanya berisi uang peninggalan jaman Belanda. Pintunya sangat kokoh sehingga belum berhasil dijebol hingga hari ini. Jadi ada kemungkinan di dalamnya masih banyak tersimpan uang dan harta benda lainnya. Benarkah demikian? Wallahualam deh.
Pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika kami diajak masuk ke penjara bawah tanah. Untuk menuju tempat ini, kami harus keluar dari gedung, berjalan ke sebuah sisi. Di depan sebuah teras, terdapat sebuah lubang kecil yang mirip lubang tikus. Untuk masuk ke dalam, hanya cukup satu orang dan harus sambil duduk dan merunduk. Ya, itulah lubang menuju penjara bawah tanah yang amat gelap gulita. Kami masuk ke dalam dan terpaksa menggantungkan penglihatan pada cahaya dari LCD handphone.
Di dalam, kami bisa melihat (walau hanya samar-samar) ruang penjara yang sangat mengerikan. Amat sempit. Kata si kakek tadi, kalau empat orang dimasukkan ke situ dalam posisi berdiri, maka ruangan itu akan penuh, dan masing-masing orang tak dapat bergerak sedikit pun. Coba bayangkan bagaimana sempitnya ruangan itu. Saya langsung membayangkan, betapa kejamnya para penjajah dahulu. Mereka menyiksa rakyat dengan cara yang sangat tidak manusiawi!
Setelah puas berkeliling, kami pun keluar dari Lawang Sewu. Alhamdulillah semuanya selamat, tak kurang satu apapun. Tak ada kejadian yang mengerikan. Semua aman-aman saja. Jika sebelum masuk saya sempat membayangkan yang seram-seram, kini saya punya pandangan tersendiri mengenai Lawang Sewu. Sebuah gedung yang amat menarik. Jika ada kesempatan, saya mau bertandang ke sana lagi.
Oh ya, ada satu "fenomena" unik di gedung tua ini: banyak anjing berkeliaran. Mungkin sengaja diasuh oleh para penjaga gedung ini, untuk mengusir hantu yang bisa mengganggu mereka. Wallahualam deh.
Nah, bagi yang merasa pengen menguji nyali atau memiliki indra ke-sekian atau kalau lagi "beruntung", katanya sih bisa melihat penampakan. Siap menguji nyali Anda..? Tempat ini saya rekomendasikan buat mereka yang merasa ngga takut sama hantu.
Tips travel kali ini : * Jangan lupa beri salam sebelum masuk...kudu wajib tuh * Kalo liat penampakan, cuek aja. Paling hantunya tengsin sendiri....hehehe * Jangan suka ngelamun alias pikiran kosong * Berikan tip 5rb atau 10rb buat guide bawah tanah, atau kalau ngga mau dia nyuruh hantunya gangguin. * Kalo mau lihat penampakan, tip nya harus tinggi katanya hehe * Sepulang dari tempat ini, sebaiknya mandi atau bagi yang muslim ambil air wudhu biar hantunya ngga ngikut sampe rumah



ReaD MoRe...
Pada hari yang sama, setelah cukup puas dengan waktu yang sangat terbatas di Borobudur Temple, peluh keringat dan perut kroncongan tak begitu kuat menghalangi kami untuk melanjutkan tour wisata. Dengan berbekal semangat perjalanan kali ini dilanjutkan ke kota gudeg, Jogjakarta. Apa....... JOGJA, JOGJA !!!! Riuh rendah suara girang di bis pertanda kesenangan yang tak terbayangkan waktu itu. Mengira bis akan berputar kembali ke arah Semarang, dengan sedikit kejutan ternyata bis ke arah barat, menuju kota Jogja... Seketika canda tawa menghiasi perjalanan kami menuju kota Jogja, kota keraton Indonesia.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 40 km dari Candi Borobudur, tibalah kami di kota Jogja. Persinggahan pertama kala itu adalah keraton Jogja, namun sayangnya karena telat, jam tanganku saat itu menunjuk pukul 4.30 itu berarti keraton sudah tutup. Sekilas saya lihat dan amati daerah keraton semacam istana kesultanan yang merupakan daerah eksotis yang bernuansa Jawa tradisional di tengah-tengah pesatnya modernisasi kota ini. Kraton Jogja yang merupakan daerah objek wisata yang telah menawan hati banyak turis lokal maupun mancanegara ini memang menyuguhkan atmosfir yang unik, menarik, indah, nyaman, dan menyenangkan. Banyak aspek kehidupan di dalam Kraton Jogja ini yang masih tetap mempertahankan nilai-nilai kebudayaan Jawa dari jaman dahulu yang luhur, jadi pantaslah jika daerah ini merupakan "the never ending Asia".
Merasa sedikit kecewa karena tidak sempat melihat pertunjukan keraton secara langsung, maka sebagai gantinya, perjalanan menuju ke arah Surga Cinderamata, Malioboro.........
Menikmati pengalaman berbelanja, berburu cinderamata khas Jogja, wisatawan bisa berjalan kaki sepanjang bahu jalan yang berkoridor (arcade), atau bahkan naik delman. Di sini akan ditemui banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya. Mulai dari produk kerajinan lokal seperti batik, hiasan rotan, wayang kulit, kerajinan bambu (gantungan kunci, lampu hias dan lain sebagainya) juga blangkon (topi khas Jawa/Jogja) serta barang-barang perak, hingga pedagang yang menjual pernak pernik umum yang banyak ditemui di tempat perdagangan lain. Jangan lupa menyisakan sedikit uang untuk melihat kaos oblong khas Jogja, DAGADU..Produsen kata-kata ini juga membuka gerai di mal depan malioboro, tapi kalau yang satu ini gak pake nawar. Jangan harap harga 60rb mau turun. Wah memang cukup mahal buat oleh-oleh..Namun jangan khawatir, kalau di Indonesia versi bajakan banyak beredar, nah di sini pula banyak Dagadu-Dagadu aspal alias asli apa palsu dijual. Cuma beda merk aja dan tentunya beda kualitas bahan, tapi kata-kata nya juga tak kalah lucu deh..murah pula. Kalau pandai nawar sih mentoknya harga 20rb. Alhasil saya pun memboyong 3 kaos. Sepanjang arcade, wisatawan selain bisa berbelanja dengan tenang dalam kondisi cerah maupun hujan, juga bisa menikmati pengalaman belanja yang menyenangkan saat menawar harga. Jika beruntung, bisa berkurang sepertiga atau bahkan separohnya.
Saat matahari mulai terbenam, ketika lampu-lampu jalan dan pertokoan mulai dinyalakan yang menambah indahnya suasana Malioboro, satu persatu lapak lesehan mulai digelar. Makanan khas Jogja seperti gudeg atau pecel lele bisa dinikmati disini selain masakan oriental ataupun sea food serta masakan Padang. Serta hiburan lagu-lagu hits atau tembang kenangan oleh para pengamen jalanan ketika bersantap.
Di akhir perjalanan, saya sempatkan berpose ria di alun-alun kota Jogja, dimana setiap sudut kota ini terasa begitu kental dengan nuansa tradisional. Uh... sungguh seperti kata Katon dalam lagunya "suasana Jogja.............." kota indah penuh kenangan.
Tips travel kali ini :
* Ingat 3S nya Aa Gym, sapa senyum dan salam, berhubung kota yang akan kamu masuki adalah kota yang cukup santun
* Sisihkan uang jauh hari sebelum kamu ke Jogja, biar oleh-olehnya juga banyak :)
* Jaga dompet Anda saat berjalan menyusuri Malioboro
* Bawa jam tangan, karena bisa-bisa kamu ngga bakalan nyadar kalau waktu berlalu begitu cepat.
* Dan terakhir, jangan macam-macam dengan wanita Jogja, yang katanya 99% ...... :-)
ReaD MoRe...
Berawal dari keseringan keluar kota, jepret sana-sini, goes to shop, `n travelling hingga akhirnya saya memutuskan untuk memasukkan entri baru di blog saya dengan label track on travel. Entri kali ini menceritakan perjalanan yang saya lakukan pada akhir bulan Januari lalu (310109). Saya beserta teman-teman seprofesi PLN (tepatnya siswa diklat prajab PLN) mengakhiri bulan Januari di kota Magelang... Bisa tebak tempat paling eksotis di Indonesia even in the world dan salah satu tempat incaran turis mancanegara. Masih belum tau juga..? Ehm gimana kalau saya beri clue lagi. Jutaan orang mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages. Yup tak lain dan sudah pasti, candi buddha terbesar di dunia, Candi Borobudur. Tak mengherankan, sebab secara arsitektural maupun fungsinya sebagai tempat ibadah, Borobudur memang memikat hati. Hey..... I`m there....

Ini adalah kedatangan ku yang kedua kalinya ke sana namun pertama terasa tidak bakalan cukup untuk mengelupas seluk beluk historikal yang tersimpan di sana terlebih lagi ketika si pemandu wisata mengatakan kalau masih banyak patung-patung yang hingga sekarang belum bisa terdefinisikan alias unknown pattern. Pantas saja candi yang konon katanya ditemukan dalam keadaan terkubur, banyak yang sudah raib. Beberapa mengatakan Borobudur awalnya berdiri dikitari rawa kemudian terpendam karena letusan Merapi. Dasarnya adalah prasasti Kalkutta bertuliskan 'Amawa' berarti lautan susu. Kata itu yang kemudian diartikan sebagai lahar Merapi. Beberapa yang lain mengatakan Borobudur tertimbun lahar dingin Merapi.
Dengan harga tiket (sudah) Rp 12.500/orang belum lagi nambah Rp. 2000/handycam. Cukup mahal juga sih dan tidak logis hanya karena ingin motret kena bayar. Tapi untunglah kamera ku bisa masuk tanpa ikut bayar juga alias disembunyiin. Salah satu kelicikan pertama yang kulakukan hari itu. Berbeda dengan kedatangan ku dulu yang pertama, kali ini selain kunjungannya gratis dan akomodasi ditanggung oleh perusahaan (dimana-mana gratisan itu jauh lebih nikmat), dengan 94 orang teman-teman yang lain, juga sebelum memasuki kawasan Candi, kami masuk ke sebuah mini teater terlebih dahulu, dimana disana akan diputarkan film dokumenter mengenai sejarah serta bagaimana posisi Candi Borobudur di mata dunia. Benar-benar hal yang bisa dibanggakan. Apalagi banyak bule (baca:turis mancanegara) yang ikut berdecak kagum melihat megaproyek tempo doeloe. Saya hanya tidak habis berpikir bagaimana bangunan semegah itu bisa selesai dalam waktu 100 tahun (lama banget) tanpa bantuan seorang pun sarjana arsitek dan hanya mengandalkan kekuatan fisik dan tentu pula daya magis yang kuat.
Sesaat kemudian, waktunya untuk menuju candi, dengan cuaca mendung tapi tetap aja gerah, langkah kaki sigap dan penuh semangat menuju ke titian anak tangga candi. Kata pertama yang keluar, Wooouww...It`s awesome.... Tak cukup dengan itu, jeprat jepret yang sudah menjadi hal yang lumrah dan WAJIB hukumnya dalam setiap tradisi jalan-jalan. Setelah mencapai puncak stupa tertinggi dan terbesar dengan diameter 5 meter, pandangan sudah kulayangkan jauh ke arah sekeliling, nampak pegunungan yang dengan liarnya sejenak merasuk rona imajiku, balutan awan tipis menutupi pepohononan di kejauhan terlihat begitu indah dan eksotis. Belum puas dengan itu, kamera yang sudah mulai menjerit ingin di charge kembali dan memory yang sudah hampir penuh, kusempatkan berfoto ria dengan para bule sexi nan rupawan. Namun dibalik kemegahan bangunan ini ada satu hal dari banyak hal aneh yang ketangkap, Ada semacam antena atau lebih mirip penangkal petir di pucuk stupa. Fungsi nya apa yah...?
Dengan segala kehebatan dan misteri yang ada seperti ketemu jodoh ketika bisa menggapai anggota tubuh sang buddha dalam arca, atau misteri astronomi kuno yang mengaitkan dengan sistem rasi bintang, wajar bila banyak orang dari segala penjuru dunia memasukkan Borobudur sebagai tempat yang harus dikunjungi dalam hidupnya. Selain menikmati candinya, anda juga bisa berkeliling ke desa-desa sekitar Borobudur, seperti Karanganyar dan Wanurejo untuk melihat aktivitas warga membuat kerajinan. Anda juga bisa pergi ke puncak watu Kendil untuk dapat memandang panorama Borobudur dari atas. Tunggu apa lagi? Tak perlu khawatir gempa 27 Mei 2006, karena Borobudur tidak terkena dampaknya sama sekali.
tips travel
*jangan lupa bawa payung sebeluym hujan, kalau nggak bisa-bisa kepanasan kalau musim panas dan kehujanan kalau musim hujan, atau mesti nyewa payung dengan harga sekali jalan 3rb.
*jaga kamera kamu sewaktu di loket, jangan sampai ketahuan, atau harus bayar 5rb per sekali masuk.
*bawa minuman dari luar, daripada mati kehausan di tengah jalan.
*gunakan kamera dengan full charge atau harus rela kehilangan objek yang banyak.
Itu aja info travel dari saya and enjoy your trip




ReaD MoRe...