
Anak-anak di daerah ini, (mungkin) sudah banyak yang tidak akrab, (apalagi) memahami pesan-pesan moral dari nenen moyang mereka. Misalnya, bagaimana orang-orang tua kita dulu, berpesan kepada anak-anaknya, dengan sebutan Makassar “Inroi Rolong Pintuju Pallunnu.”
Inroi rolong Pintuju Pallunnu” secara harfiah dalam bahasa Indonesia berarti “Kelilingi dulu tujuh kali dapurmu”. Apa sebenarnya arti yang terkandung dalam pesan itu?
Oleh paman dan ayah saya ketika masih kecil, pesan itu diucapkan berulang kali, jika saya lagi malas dalam belajar.
“Persiapkan dirimu sesiap-siapnya, sejak masih kecil!” Itulah makna dasar yang terkandung di dalam pesan tadi. Tujuannya adalah supaya kita siap menyongsong kehidupan yang luas dan berat, ketika usia semakin dewasa. Hanya orang yang siap yang bisa dan mampu mengembangkan dirinya! Menjawab dan melakoni teka-teki hidup yang harus dijalani.
Setiap bangsa dan komunitas mempunyai apa yang disebut ”kearifan budaya-lokal”. Yang menjadi tuntunan atau pegangan hidup bagi keberlangsungan turunannya. Misalnya dengan pesan SIAP atau ”Inroi Pallunnu” tadi, juga dikenal di tanah Tiongkok sejak dulu kala. Adalah seorang Jenderal Tiongkok, puluhan abad yang lalu bernama Sun Tse. Ia mengajarkan pentingnya menegakkan prinsip ”SIAP” di kalangan prajurit. Sun Tse menyebutkan motto singkat, ”Jika SIAP maka tak ada Bahaya.” Hal ini sejalan dengan makna pesan tadi. Anak-anak muda Bugis-Makassar-Mandar-Toraja, dulu-dulu setiap kali mau berlayar mengarungi lautan dengan perahu pinisi, leluhur mereka (dalam upacara leluhur Appitoto) menanamkan ke dalam jiwa mereka prinsip berSIAP diri itu. Supaya dapat membangun kepercayaan diri! Berani! Cerdas! Dan konsisten di laut! Dengan akta lain supaya tegar megarungi kehidupan, dimana pun mereka berada.
Tulisan singkat ini khusus saya tujukan kepada teman-teman sebaya supaya tidak sekedar menerima secara pasif ”warisan” dari orang tua, tapi tampil dengan kepala tegak, mengembangkan ke-SIAP-an dari mereka.
ReaD MoRe...
